Kamis, 22 September 2011

Subject : Technology n Language Learning, Lecturer : Mr. Rizal (journal of Tech n L2 teaching by Warschauer n Meskil)

waw waw n waw....
due to reading this awesome article, I get much knowledge n many points of view as to high technology used in teaching. Actually each high technology (refers to computer) can be used for teaching any subject as long as the teachers know how to make it applied in each subject. However, since I am now in English and Language Department so I am going to talk about High Tech used in teaching second language based on Warschauer n Meski's article.

Before computer came, spread, and took apart in influencing people's life, traditional tools did those in the very first place. People still communicated by mail through post which would spend lots of costs and even more times. People still typed any writing just by type-writer which was not really effective to use comparing to the computer. Teacher only used old blackboards and chalks to deliver lessons to the class. No language labs, Computer labs, moreover which were connected to the internet connection. Teachers showed their effort to deliver the lessons though merely by using those limited stuffs to make their students gain the subjects.

Right now, everything changes. USA is getting closer, UK is beside us, Netherlands is our neighbor, France is as if in front of our face, etc. We can see those places more easily than before without visiting them. High technology influences it. Every aspect, side, and part of the world are influenced. Economic, Education, Health, Governance, and so on. Nothing is left from High Tech.


High tech is "ubiquitous", the word which is very attracting and grabbing my attention in this article. It is really precise that the computer is right now merely like rubbishes. Every where is available, every where is provided. No wonder if right now teaching and learning processes are touching it. Student now is much more different then before. In operating this sophisticated stuff, student is cleverer than the teacher. So this is why teacher is demanded to be updated in using these technologies. When teachers just use old blackboard and chalk before, now they must know how to operate OHP, LCD, and so on. If it is not, than good bye ...:)

Nothing perfect. Though computer helps us a lot in doing anything, this also has its own infirmity.
Just be aware in using this. No more gate for us now to get anything. Everything is available and complete provided. So, make your own way to protect yourselves. :)


my blog pasca editting

dear readers...,,

welcome to my new blog appearance... :)

long time not open my blog page, and spontaneously I got shocked cos my blog page was very messy and unorganized. 
lat time I posted here some short stories originally composed by me myself (no plagiat) hehe, and some written researches.
now you all guys can open and read new entries on my blog since all my subjects in my class oblige me to write each reflective essay/journal on blog.


my blog design is absolutely still under construction, it is still very simpler than my friend's but you can update reading my blog and see the different every day.. okay ...???

after reading my blog please leave your comment even it is just emoticon like :), :(, :*, :D etc




thanks for your attention

cheers

M. Iqbal Maulana
Sampoerna Scholar
English Tutor at
Mabes Polisi Militer Jakarta

Senin, 27 Juni 2011

Artikel Pendidikan


Calon Guru = Calon Pengangguran

Belakangan ini, begitu banyak isu-isu pendidikan yang bertebaran di media masa dan tersebar luas ke masyarakat. Dari mulai mahalnya biaya pendidikan, sarana sekolah yang kurang memadai, dan peningkatan keprofesionalan guru. Salah satunya adalah PPG.  Program Pelatihan Profesional Guru (PPG) yang akan diterapkan pemerintah menuai banyak permasalahan. Program Pelatihan Profesional Guru (PPG) yang seharusnya menjadi titik tolak perubahan peningkatan kualitas calon guru di Indonesia, kini menjadi momok yang sangat menakutkan bagi mereka, karena program ini tidak banyak membawa keuntungan namun malah banyak membawa kerugian. PPG yang semula  dilakukan pemerintah untuk memberikan pelatihan dan pembekalan bagi calon guru, harus berakhir dengan protes dikalangan masyarakat dan terutama calon guru.
PPG yang mulai dicanangkan pemerintah adalah program pelatihan calon guru dalam jangka waktu selama satu tahun setelah para calon guru wisuda dari Universitas mereka masing-masing. Mereka akan diberikan keterampilan dan metode mengajar yang professional di dalam program ini. Hal ini bertujuan untuk sebagai langkah awal meningkatkan kualitas sumber daya guru di Indonesia. Program ini semula dinilai baik oleh masyarakat luas, Namun prosedur dan aturan main yang digunakan dinilai tidaklah sesuai dan fleksibel dilakukan di Indonesia.  Menurut para calon guru dan para pakar pendidikan program ini masih diragukan keberhasilanya. Mengapa hal ini bisa terjadi ?
Yang menjadi masalah pertama adalah program ini bisa diperuntukan bagi siapa saja (tidak harus berasal dari fakultas/perguruan tinggi pendidikan) (Dikti, 2010) asalkan mereka punya keinginan untuk menjadi guru. Dengan kata lain semua sarjana perguruan tinggi dapat ikut serta dalam program ini dan akhirnya mereka dapat menjadi guru. Yang sangat disayangkan adalah peserta pelatihan program ini sangatlah terbatas, yang notabenya tidak dapat mengkover dan memfasilitasi semua sarjana calon guru untuk mengikuti program tersebut. Kalau program ini berjalan demikian, lalu apa yang akan terjadi kepada sarjana calon guru?  
Yang kedua adalah pabila sarjana calon guru tersebut tidak mengikuti program ini mereka belum/tidak bisa menjalankan profesinya sebagai seorang guru di sekolah yang ingin mereka ajar. Untuk menampung semua sarjana calon guru saja program ini tidak cukup mampu, apalagi harus ditambah mereka (yang berasal dari Fakultas/Perguruan Tinggi non Pendidikan) akan ikut serta didalam program ini, yang tidak lain mereka pun bertujuan untuk menjadi seorang guru sesuai bidang yang mereka kuasai. Hal ini karena begitu minimnya lapangan pekerjaan di Indonesia yang tidak dapat menampung mereka didunia pekerjaan setelah mereka wisuda, dan akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi guru karena profesi guru belakangan ini yang sangat diminati oleh kebanyakan orang dan memiliki prospek yang bagus.
Namun,fenomena meningkatnya mereka yang berasal dari non pendidikan yang ingin menjadi guru sangat berdampak negatif bagi mereka sarjana calon guru. Lebih parahnya adalah program ini sangat terbatas kuotanya yang mustahil dapat menamoung semua sarjana baik mereka yang berasal darim latar belakang pendidikan maupun non pendidikan. Misalnya apabila dalam kurun waktu satu tahun ada 18.000 calon guru diwisuda , dan kesempatan mereka untuk dapat diterima mengikuti program ini hanya 3000-5000 orang, lalu akan dikemanakan 13.000 sarjana lainya ? Menganggur, itulah jawaban yang pasti akan terjadi apabila program ini dilaksanakan. Apabila misalnya tiap tahun sarjana calon guru meningkat hingga 35% namun setelah wisuda hanya 10-15% yang hanya bisa mengikuti program ini dan akhirnya menjadi guru, sedangkan mereka telah menghabiskan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Mereka minimal harus menempuh 4 tahun untuk mendapatkan gelar sarjana pendidikan yang akhirnya nasib mereka tidak tentu mau kemana dan jadi apa.
Masalah yang berikutnya adalah semua sarjana calon guru baik yang berasal dari fakultas pendidikan maupun yang berasal dari non pendidikan mereka semua wajib mengikuti program ini terlebih dahulu, baru nantinya mereka bisa mendaftarkn diri mereka dan diakui menjadi guru oleh Diknas. Mungkin apabila program PPG ini tidaklah diwajibkan, masalah besar dan kontraversi ini tidaklah akan terjadi dikalangan masyarakat lebih tepatnya bagi mereka sarjana calon guru. Dengan kata lain, untuk menjadi seorang guru seperti yang dicita-citakan oleh mereka khususnya yang berasal dari fakultas pendidikan memiliki syarat yang lebih berat lagi yang sebelumnya tidak pernah seberat ini. Karir mereka untuk menjadi seorang guru menjadi terancam.
Bisa kita bayangkan nasib dan masa depan mereka para sarjana calon guru yang sudah sekian lama menempuh pendidikan mati-matian untuk mwujudkan cta-cita merka menjadi seorang guru yang bisa turut berkontribusi memajukan anak bangsa, harus terhalangi karena program PPG ini. Ini sama saja pemerintah tidak dapat menempatkan mereka pada tempatnya sesuai dengan semboyan “right man in the right place”. Program ini justru malah akan meningkatkan jumlah pengangguran di Indonesia yang akhirnya akan meningkatkan jumlah angka kemiskininan di Negara kita tercinta ini.
Keprofesionalan seorang guru yang selama ini diidam-idamkan oleh pemerintah nampaknya tidaklah dapat diselesaikan melalui jalan ini. Karena belum nampak tujuan yang jelas untuk kemajuan para nasib sarjana calon guru terutama mereka yang berasal dari fakultas pendidikan. Perlu adanya perbaikan disetiap sisi dan aturan main yang dijalankan dalam program ini agar program yang awalnya untuk menyelesaikan masalah malah akhirnya menimbulkan masalah besar yang baru. Perlu juga pemerintah menyesuaikan dengan kondisi sumber daya manusia khususnya sumber daya calon guru yang tiap tahunya meningkat dan meningkatnya permintaan calon guru di Indonesia agar nantinya program ini bisa sinkron dan seimbang dengan keadaan dan situasi di Indonesia.
Ada baiknya, pemerintah mulai mencanangkan program baru yang lebih fleksibel dan fair antara kebijakan yang diberikan pemerintah dengan objek sasaran yang ditujukan oleh pemerintah yaitu mereka para calon guru. Agar persepsi mereka bahwa calon menjadi guru adalah hal yang postif dan profesi yang menjajanjikan serta profesi yang sangat mulia tidak berubah menjadi profesi yang susah, sulit, dan membutuhkan ini itu untuk mencapainya. Dan juga menjadi sorang guru harus dibutuhkan keikhlasan dalam menjalaninya, dan apabila program ini terus dijalankan dengan aturan main yang berlaku saat ini, dikhawatirkan pola pikir mereka menjadi berubah dan tidak ada keikhlasan bagi mereka untuk menjalankan profesinya.
Begitu miris apabila fenomena terus terjadi dan berkelanjutan pada kita ataupun pada masayarakat dan juga para generasi muda calon guru (fresh graduate). Pemerintah seharusnya lebih jeli lagi dalam mencanangkan dan memutuskan suatu program, yang kiranya itu tidak membawa kemajuan bagi Indonesia namun membawa kesengsaraan bagi masyarakat. Atau mungkin pemerintah harus bisa lebih fleksibel dan merubah aturan main untuk bisa memfasilitasi semua calon guru agar mereka bisa mendapatkan hak-hak mereka setelah mereka wisuda, yaitu untuk menjadi seoarang guru, yang dapat berkontribusi memajukan pendidikan anak bangsa.

By : Muhammad Iqbal Maulana
2010120050
Section D

Text Pidato Pernikahan Annelies n Minke (Bumi Manusia Novel)


Asslamua’laikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh …,,

Yang Terhormat Bapak-Ibu hadirin dan Tamu Undangan ………
Di hari yang berbahagia ini tidak lupa saya memanjatkan Puja-Puji Syukur ke hadirat Allah dan Tuhan yang Maha Esa karena kita masih diberi kesehatan sehingga kita bisa berkumpul di sini untuk menghadiri pesta pernikahan ananda kami Agus alias Minke yang menyunting seorang gadis cantik Indo yang bernama Annelies.
Bapak-ibu hadirin yang berbahagia ……
Pada hari ini saya dapat menyampaikan bahwa hari ini adalah hari yang paling bahagia dalam hidup saya, karena pada hari ini saya dapat menyaksikan secara langsung jagoan saya, anak laki-laki kebanggaan saya setelah menamatkan sekolahnya di HBS dengan nilai yang baik dan sekarang telah menikah dengan seorang gadis yang cantik luar-biasa puteri dari nyai ontosoroh yaitu Annelies. Sungguh hari sepesial inilah yang sangat dinanti-nanti oleh seorang ibu di dunia ini.
Bapak-ibu hadirin yang berbahagia …….
Dalam kesempatan ini saya tidak akan panjang lebar untuk menyampaikan pidato saya, namun saya hanya akan menyampaikan beberapa pesan untuk anakku Agus dan Annelies yang menikah pada hari ini.
Yang seperti diajarkan oleh agama kita bahwasanya apabila kamu telah cukup, mampu dan siap maka menikahlah. Ada tiga hal yang di tekankan disini yaitu Cukup, Mampu, dan siap. Mengapa harus tiga hal ini ? karena menikah bukanlah hal yang main-main. Menikah merupakan kewajiban magi mereka yang memiliki tiga hal ini. Menikah berarti kalian akan mendirikan sebuah kerajaan dan istana baru yang dimana seorang raja dan ratu mampu menjalankan roda pemerintahan dan mengayomi masyarakatnya. Yang menjadi raja ataupun pemimpin disini bukan hanya seorang lelaki atau suami melainkan sang isteri pula. Karena setiap kalian adalah pemimpin dan kelak akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Tuhan kelak. Seorang suami harus mampu mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan kebutuhan anak-anak kalian kelak. Seorang suami harus mampu mengatur keluarga agar keluarga menjadi harmonis. Seorang suami adalah kepala keluarga yang menjadi panutan isteri dan anak-anak kalian. Seorang suami adalah pahlawan yang akan melindungi anak isteri kalian dari apapun. Sedangkan kewajiban isteri pun tidak berbeda jauh banyaknya dari seorang suami. Seorang isteri harus melayani suami, melayani dalam arti menyiapkan segala kebutuhan suami baik lahir maupun batin. Seorang isteri harus mengatur dan menjaga keuangan keluarga dan tidak boleh dipergunakan untuk hal-hal yang tidak berguna atau pemborosan melainkan tanpa adanya izin dari suami. Seorang isteri harus menjaga kepercayaan suami saat suami bekerja mencari nafkah tidak boleh menerima tamu lelaki yang bukan muhrim. Seorang isteri harus mampu mendidik anak di rumah dan tidak sebaiknya terlalu lama pergi keluar rumah.
Begitu banyak tanggung jawab yang dimiliki oleh seorang suami dan isteri, oleh karena itu ketika hendak menikah maka kalian harus cukup, mampu dan siap. Cukup disini berarti kalian harus mempunyai umur yang cukup sehingga pemikiran kalian pun sudah cukup dewasa untuk memimpin sebuah kerjaan tadi. Yang kedua adalah mampu, yang berarti lelaki harus sudah mempunyai sumber penghasilan yang cukup untuk menghidupi memberikan sandang, pangan dan papan kepada keluarga, dan seorang isteri mampu melayani suami dan anak-anaknya dengan baik. Yang ketiga adalah siap, walaupun kalian sudah memiliki dua hal diatas namun kalian belum siap maka semuanya akan sia-sia. Siap lebih cenderung kepada niat kalian untuk menikah itu sendiri ketika kalian merasa mampu dan cukup.

Bapak-ibu hadirin, dan terutama anakku agus dan annelies yang berbahagia …..
Sebagai seorang ibu itulah pesan-pesan yang dapat saya sampaikan, apabila kalian menerapkannya insya Allah kalian menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Ketika telah menikah jangan lupa untuk menengok kami yang sudah tua ini di kampung.
Semoga tuhan memberkati kalian dan kita semua, amin ……

Wassalaamua’laikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh ….

sampel mixed koesioner


Sampel Koesioner

Saya M. Iqbal Maulana mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Sampoerna School of Education Jakarta, sangat membutuhkan pertolongan dan partisipasi anda. Saya sedang melakukan penelitian tentang penggunaan Modular Seating Arrangement di SD Santo Antonius Jakarta. Informasi dan partisipasi yang anda berikan sangat penting dan berharga sekali untuk kemajuan proses pembelajaran yang efektif di SD Santo Antonius ini.
Saya sangat memohon anda meluangkan sedikit waktu anda untuk mengisi koesioner yang tersedia dibawah ini. Tidak ada jawaban benar atau salah di dalam koesioner ini, saya hanya membutuhkan pemikiran dan pendapat anda dari pertanyaan-pertanyaan di bawah ini. Saya akan menjamin kerahasiaan identitas anda sehinggan anda tidak perlu khawatir akan jawaban-jawaban pribadi anda. Terima kasih atas perhatian dan partisipasi anda semua.
Tentang Diri Anda
  1. Jenis kelamin
a.      Pria
b.      Wanita
  1. Usia
a.      8-9 tahun
b.      9-10 tahun
c.       10-12 tahun
  1. Kelas
a.      5 A
b.      5 B
Pertanyaan Koesioner
1.      Apakah pernah mendengar tentang istilah seating arrangement ?
a.      Ya
b.      Tidak
2.      Jika ya, apa yang anda ketahui tentang hal ini ?
Jawaban : ………………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………
3.      Setelah kelas anda menggunakan salah satu model seating arrangement (Modular Seating Arrangement), apakah model tersebut memudahkan anda dalam proses pembelajaran di kelas?
a.      Ya
b.      Tidak
4.      Apakah guru di kelas anda ada yang pernah melakukan hal serupa yaitu mengubah seating arrangement di kelas anda ?
a.      Ya
b.      Tidak
5.      Jika ya, model seperti apa yang pernah digunakan ?
Jawaban : ………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………………………..
6.      Apakah anda setuju untuk menggunakan Modular Seating Arrangement untuk seterusnya (berikan alasan)?
Jawaban : ………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………………………..
7.      Menurut anda apakah kekurangan dari penggunaan seating arrangement di kelas anda ?
Jawaban : ………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………….
8.      Apakah menurut anda Modular Seating Arrangement dapat diterapkan di semua mata pelajaran (berikan alasan) ?
Jawaban : ………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………….