Senin, 31 Oktober 2016

WHY 12 Years Learning English yet still Cannot Speak?

The finding of my current research indicates that there are two main big, let's say, "failures" that ELT in Indonesia still encounters in order to make L2 learners successfully and properly involved in an L1 discourse community.
First, it is found that many Indonesian L2 learners are not or less equipped by what so called "pragmatic competence", a competence to use a language appropriately in a particular context. As a result, the learners are often failed to produce contextually appropriate utterances that are used by native speakers in norms and by default. The learners tend to utilise Indonesian's customised linguistic competence and transfer/translate it to L2/English literally. Therefore, a two-way-meaningful interaction among non-native and native speakers or multi-lingual interlocutors is rare to happen. They may be linguistically correct, but contextually inappropriate.
Second, I found out that Indonesian learners are not or less exposed by what so called "authentic materials", materials used in a daily life, not made for the purpose of teaching/learning, and are brought into classroom teaching context. I have come up with a conclusion that this issue is the main factor why Indonesian L2 learners are lack of pragmatics competence mentioned previously. Why has it come that way? The main purpose of employing authentic materials in a language classroom is to diminish and eliminate the gap between the classroom and the daily life. Therefore, a set of transactional conversations that occur in a daily interaction should have been fundamentally, prominently, and paramountly exposed to the L2 learners so that they would have understood how the language is used in reality. Instead of drilling the learners to a number of lexical morphologies and syntaxes, it will be better to make up a classroom to become a number of different discourse settings such as airport, bus station, market, mall, and many other settings that the learners may often face in daily life. No worries, the grammar teaching still can be applied but by switching it from "Focus on Forms" to "Focus on Form".
To sum up, there are several things to evolve and innovate within the development of ELT in Indonesia. The thing that I highlight is the notion of ELT teacher's preparation training. After looking through several courses that ELT department in several universities in Indonesia offer, I found out that there is no such specific "intercultural pragmatics" course to be mandatorily taken by pre-service teachers in Undergraduate levels while I found almost all post-graduate levels do offer this course. Notwithstanding this reality is quite unfortunate, the revolution of ELT curriculum designed by the Ministry of Education could be another solution considering the demand of highly proficient English communicative competence is extremely high in this globalised world.

"SAYA PENDIDIK YANG (MASIH) GAGAL"


Sepulangnya saya setelah menghantarkan si cinta ke rumahnya di bilangan Jatiwarna, menyusuri tepian jalanan Tol Jor ke arah Pasar Rebo-Pondok Indah, ada satu hal yang sangat menusuk-nusuk hati saya. Pedih dan sakit sekali. Membuat saya merenung sepanjang jalan pulang, dan tak terasa bulir-bulir air mata tak dapat saya bendung.
Masih memacu sepeda motor CS1 saya dengan kecepatan setandar, tiba-tiba dari arah belakang saya terdengar rentetan klakson sepeda motor, diiringi suara knalpot motor yang teramat bising, dan suara-suara teriakan-teriakan tak enak didengar mendahului saya dengan semberono tanpa hati-hati. Setelah saya perhatikan, ternyata mereka adalah segerombolan jama'ah pengajian yang hendak menuju masjid tempat dimana pengajian diadakan malam ini. Tidak ada helm di kepala mereka melainkan kopiah putih, jauh dari kata aman untuk berkendara. Ditambah lagi, sepeda motor mereka iring-iringan dan ugal-ugalan tanpa memikirkan keselamatan mereka sendiri dan pengguna jalan yang lain. Mirisnya, sebagian besar mereka masih dibawah umur. Yah, kira-kira mereka masih berusia 13-16 tahunan.
Kemudian saya bertanya, tidakkah orang tua mereka di rumah mengetahui perbuatan anak-anak mereka ini? Tidakkah guru-gurunya di sekolah mengajarkan disiplin dan tertib di jalanan? Tidak main-main, sudah banyak nyawa terenggut akibat kecelakaan di jalan raya. Dan mereka, para pelajar dibawah umur, sedang berjumawa dan bangga menggunakan atribut keagamaan mereka dan melalaikan atribut di jalan raya. Beginikah nasib pendidikan kita? Beginikah buah hasil pendidikan yang mereka kenyam di sekolah? Tidakkah guru-guru mereka (dan kita para guru) merasa berdosa melihat mereka, calon pemimpin masa depan bangsa mengacuhkan kedisiplinan dan menaruhkan nyawa mereka?
Wahai para guru, lihatlah anak-anak didikmu itu. Jika hanya mengajarkan materi pelajaran, saya pikir guru les privat saja sudah cukup. Tugas kalian dan kita tidak hanya itu. Buat apa pintar matematika tapi tak melanggar aturan lalu lintas, buat apa pintar agama tapi menzolimi orang lain, dan buat apa pintar Bahasa Inggris namun tidak memiliki SIM saat berkendara?
Wahai para guru, anak-anak didikmu itu adalah titipan Yang Kuasa. Mereka amanahmu. Tujuan mereka ada didalam kelasmu adalah untuk "menjadi" MANUSIA, bukan hanya pintar matematika. Mari sama-sama kita berintrospeksi, guru macam apakah kita ini? Saya akui, saya gagal. Saya gagal. Saya gagal, jika ini terus berlanjut dan lebih parah lagi jika terus menyebar luas. Saya masih menjadi guru yang GAGAL.

Kamis, 12 Maret 2015

The Dreams Do Come True!


(Impian yang selalu tercapai)

Tulisan ini saya buat bertujuan untuk menginspirasi dan memotivasi teman-teman semua untuk terus memperjuangkan mimpi-mimpi yang telah kalian inginkan dalam hidup ini.

1. Saya bermimpi saya ingin bisa kuliah setelah lulus SMA. Yah terlihat simpel, namun ini adalah hal yang hampir mustahil saat itu karena bisnis orang tua saya bangkrut, papah saya sakit, dan terlilit banyak hutang. Saya menyaksikkan dimana keluarga saya terlilit banyak hutang, semua aset terjual dan tersita, dan menjadi buronan Debt Collector, bahkan rumah satu-satunya yang kami tempati pun terlelang. Saya dan keluarga pun mengungsi dirumah kakek dan nenek. Keadaan perekonomian keluarga saya pada saat itu benar-benar lebih dari kata berantakan dan carut marut. 

Tidak hanya berhenti sampai disitu, penderitaan kembali datang, dan ini mungkin adalah kenyataan yang paling berat. Papah saya kecelakaan di Lintas Timur Lampung, dan membuat dia nyaris lumpuh. Syaraf dibagian pinggang terjepit tulang iga, dan membuat ukuran kakinya hanya sebesar tangan anak kecil. Tambah hancurlah kondisi keluarga saya saat itu. Sudah bangkrut, terlilit hutang, semua aset tersita, dan seorang ayah yg menjadi tulang punggung keluarga saat itu pun tak berdaya. Langit serasa mulai mendekat dan menjepit bumi. Tak ada lagi ruang untuk berharap. Semua terasa gelap.

Saat itu, saya sedang berada dipenghujungjung kelas 12, dan hendak melanjutkan ke perguruan tinggi. Teman-teman satu SMA saya sudah berburu mendaftar ke perguruan tinggi impian mereka masing-masing. Dan saya? Berhayal pun tidak. Memikirkan kondisi keluarga yang sedang carut marut, tak sedikitpun memberanikan diri saya untuk bertindak sama seperti teman-teman saya. Yang ada dalam benak saya adalah untuk menolong orang tua saya memperbaiki kondisi keluarga, dan membuat papa saya sembuh dari kelumpuhannya. Dada saya sesak. Tak ada lagi ruang di dada saya, untuk menampung degupan jantung yang tak terarah, dan jiwa yang selalu resah.

Dengan apa saya harus membantu kondisi keluarga saya? Bekerja kah? Kerja apa? Buruh? Atau TKI? Hutang keluarga saya itu totalnya ratusan juta. Apakah dengan jadi buruh dengan gaji yg untuk makan pun kurang dapat membantu? Saya yakin tidak, mungkin hanya akan menambah beban.

Satu-satunya cara adalah dengan terus kuliah, menjadi sarjana, dan mendapat pekerjaan yang lebih layak. Pertanyaannya, darimana biaya kuliah itu berasal? Ah sudahlah, semua ku pasrahkan kepadaNya.

Teman-temanku, mungkin karena iba melihat keadaanku yang tak dapat melanjutkan kuliah pada saat itu, berinisiatif untuk tetap memaksaku untuk kuliah. Mereka mendaftarkanku di Kampus IAIN Lampung. Mereka berbondong-bondong iuran/sokongan untuk membayarkan uang pendaftaran juga uang daftar ulang beserta uang SPP semesteran saat itu yang berkisar Rp. 750.000. Aku terharu karena memiliki teman seperti mereka yang benar-benar melakukan aksi nyata tanpa berkomunikasi denganku dulu. Akhirnya berkat ketulusan mereka, aku pun dapat kuliah di kampus tersebut.

Apakah masalah selesai? Tidak. Setelah diterima menjadi mahasiswa IAIN Lampung, kini aku bingung tentang dimana aku harus tinggal karena kampung halamanku jauh dari kampusku. Untuk menyewa kamar kos adalah hal yang mustahil karena uang sepeserpun aku tak punya.

Walau terpaksa dan berat hati, aku tetap bersyukur yang kemudian aku akhirnya ditawari untuk tinggal di sebuah ruangan mini berukuran 3x3 meter  di sebuah masjid di daerah Sukarame, Bandar Lampung. Ya, saya kemudian menjadi penjaga masjid alias "marbot" agar saya mendapatkan tempat tinggal selama saya kuliah. Tidak hanya saya sendiri disana, saya tinggal bersama 2 orang yang bernasib tidak berbeda dari saya dan berarti ada 3 orang yang tinggal didalam ruangan 3x3 meter tersebut. Logikanya, 1 orang hanya mendapatkan space 1x1 meter dalam ruangan tersebut. Dapat dibayangkan betapa sempitnya ruangan tersebut? Tapi tak apa, ini sudah lebih dari cukup, asalkan aku tak kebasahan dikala hujan, dan kepanasan dikala terik.

Setiap hari, aku harus berjalan kaki sekitar 30 menit untuk berangkat menuju kampusku dari masjid tempat aku tinggal. Lebih dari 1 Km jarak yang harus aku tempuh adalah penyebabnya? Kenapa tidak pakai motor atau naik kendaraan umum? Tentu pertanyaan ini tak perlu aku jawab.

Kampus dan tempat tinggal sudah aku dapatkan. Apakah masalah telah selesai? Belum. Aku masih harus bingung untuk memenuhi kebutuhan hidupku untuk selama kuliah. Aku rasa tak perlu aku jelaskan kenapa. Hal ini memaksaku untuk turun ke jalanan mengadu nasib dengan para pe-loper koran lainnya, yang bertaruh nyawa dari padatnya kendaraan lintas Sumatera untuk bertahan mendapatkan makan untuk hari itu. Kegiatan ini terus aku lakukan di pagi hari sebelum aku berangkat kuliah.

Waktu terus berlalu hingga tak terasa sudah 1 tahun aku kuliah dengan segala keterbatasan yang ada. IPK 3.8 adalah bukti aku tidak main-main dalam kuliahku. Setelah merefleksi diri, aku merenungkan apakah iya aku sanggup untuk menyelesaikan 3 tahun sisa waktu kuliahku dengan keadaan yang "memaksa" seperti ini? Ah, ini tidak mungkin. Di semester-semester berikutnya pengeluaran akan lebih banyak, segala sesuatu akan lebih mahal, SPP kuliah pun akan terus naik. Aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus mencari beasiswa yang membiayaiku penuh sampai aku selesai kuliah.

Berbekal sejumlah prestasi yang aku dapatkan dalam bidang Bahasa Inggris baik di tingkat kabupaten/kota, propinsi dan nasional, ku beranikan diri mendaftar di Sampoerna University Jakarta yang menyediakan bantuan pendidikan sampai tamat sarjana dari dan mendapatka uang saku tiap bulannya oleh PSF. Kuliah, juga digaji! Itulah impianku. Aku harus mengalahkan ratusan sainganku, untuk mendapatkan satu tempat sebagai awardee.

Akhirnya, atas semua kerja keras, airmata bercucuran, derita, dan doa yang terus terucap, saya akhirnya bisa menjadi Sarjana Pendidikan dari Sampoerna University Jakarta dengan mendapatkan bantuan dana berupa Beasiswa dari PSF (Putra Sampoerna Foundation). Terimaksih atas anugerahMu yang tak terduga Tuhan.














2. Saya bermimpi untuk bisa menghasilkan uang sendiri saat saya kuliah di Jakarta. Dikarenakan kondisi keuangan keluarga yang terpuruk, saya dituntut untuk tidak seperti mahasiswa lainnya yakni tidak hanya belajar di kampus. Namun juga harus mencari pekerjaan sampingan untuk membiayai kehidupan di Jakarta yang amat mahal. Alhamdulilah, selama saya kuliah saya dapat kesempatan untuk bekerja sebagai pengajar di perusahaan ternama sebagai trainer Bahasa Inggris. Diantaranya: Bank Indonesia, Dinas Pekerjaan Umum Jakarta, Rumah Sakit Kartini Jakarta, PT. Metro Telkom, dan Mabes Polisi Militer Jakarta. 

Alhamdulilah, uang yang saya hasilkan tidak hanya cukup untuk kebutuhan saya, namun saya dapat membantu orang-tua saya melunasi hutangnya yang bernilai ratusan juta rupiah, mengobati papah saya dari kelumpuhan (walaupun sampai saat ini masih belum sembuh), dan membiayai adik saya satu-satunya yang masih sekolah. Allah Maha baik!












3. Saya ingin menjadi seorang pembicara dalam seminar Internasional. Dalam hal ini, saya ingin menunjukkan kemampuan saya dalam melakukan riset-riset yang mendalam dalam bidang pendidikan dan pengajaran, dan mempresentasikannya di depan para akademisi dan professor-professor di forum dunia. Lagi-lagi, setelah melewati penolakan-penolakan terhadap proposal penelitian yang saya buat, Allah mengabulkan doa saya sehingga saya dapat menjadi seorang pembicara dalam seminar internasional yang bernama "TEFLIN International Conference" UI, "CONAPLIN International Conference" di UPI Bandung, dan "UNWTO International Conference" di Saripan Pacific Hotel sebagai interpreter mendampingi ibu menteri pariwisata dan ekonomi kreatif, Mari Eka Pangestu.
























4. Saya ingin bekerja/mengajar di "International School". Saya ingin mendapat banyak pengalaman mengajar dengan kurikulum Internasional dan pengalaman mengajar expatriate students dan sekaligus bekerja dengan expatriate colleagues. Dan, Allah pun mengabulkan. Hanya berjarak beberapa minggu setelah ujian sidang skripsi (dan belum wisuda), saya diterima bekerja di Sekolah Victory Plus yang menerapan 2 kurikulum internasional, IB dan Cambridge A Levels.

Selain itu, segala bentuk pengalaman yang terinternasional, alhamdulilah gaji yang saya dapatkan pun berkelas internasional. Oleh karena itu, saya dapat membantu orang tua saya untuk membelikan kembali mereka rumah, membayar sisa hutang-hutang mereka, mengobati terapi papah saya, dan memberikan modal usaha untuk dikelola untuk Mamah saya karena semenjak papah saya sakit Mamah saya menjadi seorang ibu rumah tangga yang merangkap sebagai kepala keluarga. Terimakasih atas rizki yang engkau berikan Tuhan!










5. Ini impian terbesar yang akhirnya saya capai. Yakni menuntut ilmu di Luar Negeri. Sejak kuliah di S1, saya ingin sekali mengikuti students exchange atau kegiatan mahasiswa di luar negeri yang tentunya gratis. Kurang lebih hampir 50 aplikasi dari berbagai program yang saya daftar, 1 pun tidak ada yang tembus alias GAGAL! Mulai dari UGRAD Program, SUSI, IELSP, Model ASEM, PPAN dan buanyak lagi. Namun, dengan hanya satu kata "persistence", akhirnya saya mendapat kesempatan itu. Insya Allah, bulan September tahun ini saya akan resmi menjadi mahasiswa S2 di University of Bristol, United Kingdom dengan mendapat beasiswa BPI-LPDP dari kementrian keuangan Indonesia.

Sebelum akhirnya memilih University of Bristol, saya sebenarnya telah diterima di 7 kampus ternama di Inggris anatara lain: University of Manchester, University of Birmingham, University of Edinburgh, King's College London, University College London, University of Leeds, dan hampir sedikit lagi di University of Oxford.

 Saya bangga sekaligus terharu. Penantian panjang berujung manis. :)


















6. Impian saya adalah untuk menjadi delegasi Indonesia dalam konferensi pemuda Internasional dunia. Saya ingin menjadi duta Indonesia dalam forum dunia dan membawa nama harum Indonesia dalam kanca Internasional. Saya juga ingin membuktikan bahwa saya ingin berkontribusi dalam pemecahan masalah yang dimiliki Indonesia dengan berdiskusi dan membicarakannya dengan para delegasi dari seluruh dunia. Lagi-lagi, setelah melewati banyak sekali penolakan dan kegagalan, Insya Allah pada tanggal 26-28 Oktober saya akan menjadi delegasi Indonesia pada The 9th UNESCO Youth Forum di Paris, Prancis. 

Setelah itu akan dilanjutkan dengan menjadi delegasi Indonesia dalam OpenCon International Conference dengan prestasi telah memberikan dan membuka akses pemuda di Indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang layak yang akan dilaksanakan pada bulan November 2015 di Brussels, Belgia. Thank you Allah.














7. Mimpi saya berikutnya adalah, saya ingin menjadi salah satu staff pada badan tertinggi dunia PBB bagian Pendidikan (UNESCO). Saya ingin sekali dapat menjembatani institusi dunia untuk turut memajukan pendidikan juga kebijakan-kebijakan terhadapnya. Selain itu, saya juga ingin menjadi professional teacher trainers yang ditugaskan untuk memberi pelatihan-pelatihan guru-guru yang berada di area terpencil di Indonesia agar memiliki kemampuan pedagogi dan kualitas yang setara dengan guru-guru yang berada di kota. Mudah-mudahan Allah mendengar dan mengijabah, dan saya yakin iya!



Akhir kata, saya hanya ingin berkata bahwa setinggi apapun mimpi kita harus kita perjuangkan. Ketika gagal, bangkit, gagal, bangkit, dan terus seperti itu. Coba lagi, coba lagi. Allah pasti kasihan ketika melihat kita terus berusaha dan berdoa kepadaNya, sehingga Dia pasti mengabulkan. Namun, dengan waktu yang telah ditentukan.

Bermimpilah karena Allah mendengar semua ucapan/pikiranmu.
Bermimpilah karena Allah akan memeluk mimpi-mimpimu.

Terus berjuang walaupun gagal, terus mencoba, karena kita tidak pernah tahu kalau
mungkin kita hanya perlu mencoba sekali lagi, sehingga kita mendapatkan apa yg kita impikan.

M. Iqbal Maulana
LPDP - PK 34
M.Sc in TESOL, University of Bristol
Language Acquisition Teacher
Sekolah Victory Plus


Contact me:

Twitter: @iqbaltrainer
LINE: iqbal2310
Facebook: iqbal_train@ymail.com







Rabu, 23 April 2014

Novel Review (Twilight Series) by My Student, SMAK 6 Penabur Felicia

Vampires, Romance, and Combats of Twilight Fantasy

A mixture of vampires, romance, and combats equal to “Twilight Saga”. These four-sequel books are named “Twilight Saga”. Meyers, Stephenie Meyers, well-known as the author of “Twilight Saga”, succeed on making this book rose to the top of books chart with 120 million copies in countries. It Starts with the first book, “Twilight”, as a charming immortal creature, a vampire appears in an ordinary Isabella Swan’s life. The vampire, Edward Cullen, is accompanied by others, most likely to be his family. Alice Cullen, the sweet vampire gifted with a special future sight talent, is paired with the newborn vampire called Jasper Cullen. Another loving couple stands in the family is Emmett Cullen, the tough one, and the most elegant among others, Rosalie Cullen. Meanwhile, Carlisle and Esme Cullen are in charge for them and play the parents role. The Cullen family drinks blood, of course, as the natural habit of vampires but they drink animal’s blood rather than human’s. “Twilight” provides a romance story of how an immortal falls hard for a mortal girl, Bella. When Bella moved to Forks, she carried on with life as simple as it took. Not until Edward, her soon to be love of life, appeared and dragged her into an unfamiliar world of immortals. She got on with the new world easily, before the threats came to surface. James, a wild vampire who drinks from humans, came after her. Combats started to flared up as James with his companies, Victoria and Lauren hunted her down. Fortunately, Edward did not let them get to Bella that easy because of their deep and unbreakable love. She also willing to sacrifice things she has, lost contact to her family and takes risks for a trade of his love. With struggles of his family, he won a combat to James and surprisingly, Alice was the one who broke James’ neck off his body and burned him to death. The Cullens took Bella back to Forks and try to covered things up for her good. This book was later manifested into a movie, which attracted many people, from teenagers to adults.

To my opinion, this book is extremely brilliant because it falters my mind-setting of the statement that vampires are a killer and dreadful immortal creatures. It is stated clearly that Edward Cullen, the charming vampire, is a protagonist character of the book. He does not kill human for bloods, he mingles with mortals, and most importantly he aims no harm toward others. Compared to ancient vampire kinds such as vampires from China and vampires from the movie of “Abraham Lincoln, the vampire hunter” which the vampires are zombie look-a-like. We can easily spot the differences among their life style, murder technic, and how they try to survive a life. Meyers has indirectly introduced us, the readers, to a new concept of vampire who can survive among humans with a spark of fantasy.

Alice, the one who murdered the wild vampire, James, declares to us a new side of this book, feminism. The author is a genius according to me because unlike others, she proves that sometimes, women are equal to man or maybe above them. With prove of the part where Alice killed James, neither Emmett nor Jasper, simply took the point that women can be the hero of the combats, not only man.

Now, by analyzing the way Alice killed James, we can find a new method of murder by vampires. In old times, ancient vampires tend to killed humans because of urge to drink bloods, by biting human’s neck and suck the bloods. This book tells us a different method of murder which is by breaking their neck and burn them. This kind of murder which was done by Alice is caused by threats not by the urge to satisfy their needs of blood. I find this very unique because I have never found anything like this before in other vampire books or movies. It becomes the signature of this book with no doubt.

From Bella’s point of view, the love she is willing to sacrifice for is undoubtedly strong considering the fact that this love is intertwined between an immortal, vampire and mortals which can be called human. In the following sequel of “Twilight Saga”, their relationship only grows stronger although obstacles are there just to interrupt it. Even Bella sacrifices her own body to maintain the love of her and Edward that later will be born and claimed as their half mortal and half immortal daughter. She takes risks, lost contact to her family and fight for their love whenever she needs to. This comes to my mind, “why don’t we take an example of her character and implement it in daily life?” so, why don’t we try?

Words by words have been written and my applause is addressed to her honor, Stephenie Meyers. She is brilliant because of her effort of making a story consists of vampires, romance that is heart-melting, and combats or we may call battles with brand new concept of views. It describes in the characters which are rarely found in other fantasies and the plot twist itself. My recommendation goes out there to reach new readers, you will not regret, I guarantee you.

Jumat, 18 April 2014

Kegagalan mengikuti PPAN tahun 2014

Terihitung sejak pertengahan maret 2014, saya mengurangi atau bahkan menghentikan aktifitas penulisan skripsi saya untuk satu tujuan. Yakni mempersiapkan segala sesuatu untuk mengikuti seleksi PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara) yang di laksanakan oleh Kementrian Pemuda dan Olah Raga Indonesia. Dalam hal ini, para pemuda Indonesia dapat mengikuti seleksi ini di daerah provinsi masing-masing selagi usia yang diminta memenuhi kriteria yang diminta. Saya, adalah salah satu dari sekian pemuda di Indonesia yang juga sangat antusias untuk mengikuti seleksi program ini. Karena KTP saya beralamatkan di Lampung, maka saya pun harus pulang ke Lampung demi mengikuti seleksi ini karena saat ini saya sedang menuntut ilmu di Jakarta.

Oh iya, alasan saya menceritakan kembali momen-momen ini adalah karena untuk meluapkan sedikit perasaan saya karena kegagalan saya mengikuti tes seleksi program ini. Yang berakibat, saya belum bisa move on untuk kembali mengejar target utama saya, yakni menyelesaikan skripsi. Saya sadar, ini bukan semata-mata kesalahan program itu sendiri, melainkan juga kesalahan diri saya yang tidak bisa mengendalikan emosi untuk bisa kembali move on mengerjakan hal-hal penting yang harus saya selesaikan dalam waktu dekat ini. Maka dari itu, saya menuliskan pengalaman saya mengikuti seleksi program ini dengan tujuan utama agar perasaan kecewa saya dapat ikut hanyut bersama huruf demi huruf yang saya tuliskan di blog ini, dan mudah-mudahan setelah selesai menuliskan cerita ini, saya dapat kembali fokus menyelesaikan skripsi saya yang tertunda sudah cukup lama. Amin, :)

Pergi dan belajar ke luar negeri adalah salah satu dari target dari mimpi-mimpi saya yang selalu saya tanamkan di otak saya. Berbagai program telah saya ikuti untuk mewujudkan mimpi saya ini, namun Tuhan masih belum berkehendak untuk mengabulkan mimpi saya ini sekarang. Saya yakin Tuhan punya rencana lain dibalik semua ini. :-)

Berawal dari melihat kakak-kakak tingkat saya yang telah lolos untuk mengikuti program PPAN ini sebelumnya, seperti Grace yang berangkat ke China dan Anais yang berangkat untuk mengikuti program pertukaran pemuda ke Kanada mewakili propinsi masing masing, Jakarta dan Jawa Barat. Ditambah lagi, salah satu sosok inspirator saya sejak SMA, Mas Suprayogi, yang juga berangkat tahun sebelumnya mewakili propinsi Lampung ke ASEAN Jepang. Wah, luar biasa sekali mereka. :)
Mereka pasti sangat bangga sekali karena berhasil mewakili propinsi mereka masing-masing dan menjadi duta negara di negeri orang. Super sekali! Berangkat dari situ, kemudian saya mulai mencari-cari informasi dari web PCMI Lampung dan juga bertanya-tanya dengan Mas Yogi tentang informasi seleksi berikutnya yakni seleksi PPAN tahun 2014.

Beberapa hari kemudian, keluarlah pengumuman untuk pengadaan seleksi pemuda untuk program PPAN tahun 2014. Saya sangat antusias sekali menunggu pengumuman ini. Dan ternyata, Lampung masih kebagian kuota untuk putera, namun hanya ke satu negara, yakni Korea Selatan. Karena tahun 2013, Lampung mendapatkan kuota 4 orang untuk putera dan 1 orang puteri, jadi tahun 2014 diadakan sistim roling dimana putera mendapatkan tempat terbatas. Tak apalah, fikirku. Negara manapun, yang penting bisa ke luar negeri dan menjadi duta negara. Maka dari itu, saya mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengikuti seleksi berkas. Setelah saya pahami semua berkas yang diminta, ada 1 berkas yang saya miliki. Yakni sertifikat TOEFL. Padahal, waktu pembukaan pendaftaran sangat terbatas dan juga untuk megeluarkan sertifikat toefl, harus memakan waktu 7 hari kerja. Tentunya, saya grusak grusuk untuk segera tes teofl hari itu juga mengingat waktu pendaftaran yang sangat mepet. Semua lembaga penyelenggara TOEFL ITP saya hubungi. Namun naas, semua lembaga sudah menutup pendaftaran karena saya harus mengikuti test TOEFL keesokan harinya. Jadi, kebanyakan lembaga sudah fullseats. Walhasil, saya menelpon satu lembaga lagi yang sebenarnya sudah menutup pendaftaran online seperti yang tertera di web milik lembaga tersebut. Namun, saya tetap menghubungi nomor telpon yang tertera di web tersebut. Setelah mengeluarkan bahasa-bahasa yang diplomatis, akhirnya pihak admin lembaga mengizinkan saya untuk tes esok hari karena ada 1 seat kosong disebabkan orang tersebut tiba-tiba membatalkan untuk tes di hari itu. Plong! Kemudian keesokan harinya saya mengikuti tes TOEFL ITP, dan hasilnya pun cukup memuaskan untuk seorang pemula meskipun skornya tidak begitu besar. :) Alhamdulilaaahhh

Tidak berhenti sampai disitu, para peserta seleksi diwajibkan untuk menguasai satu atau lebih kesenian daerah Lampung. Seperti tari, musik, lagu, dll. Mati! saya sama sekali buta tentang kesenian Lampung.Setelah berkonsultasi dengan mas Yogi, saya dianjurkan untuk bisa menari. Alahmaaakkk, mana pernah terbayang dalam diri saya untuk bisa menari. Selain itu, tubuh besar saya ini sangat tidak mendukung untuk menjadi seorang penari. Tapi demi lolos seleksi PPAN, saya akan berusaha semaksimal mungkin. Setelah berkas terkumpul lengkap, saya pun mengirimkan dokumen lengkap tersebut ke kantor dispora Lampung melalui jasa TIKI. Sambil menunggu waktu pengumuman seleksi berkas, saya pun mulai latihan menari Bedana. Yakni salah satu tarian daerah Lampung. Pagi, siang, sore, malam, waktu saya habiskan untuk berlatih menari. Satu yang ada di fikiran saya saat itu. Saya pasti bisa! Keberhasilan akan datang bagi seseorang yang mau berusaha melewati batas normal, beyond the limit! Tak tanggung-tanggung, saya pun mengundang teman saya di kampus yang merupakan penari handal, khusus untuk mengajarkan saya gerakan demi gerakan dari tari bedana tersebut, agar setidaknya enak dilihat ketika saya yang membawakan tarian tersebut. Ngos-ngosan! hehe. . .Tapi tak apalah, demi menjadi seorang duta negara, tentunya apapun akan saya lakukan agar saya bisa menari. Dan hasilnya, saya bisa menguasai semua gerakan tari Bedana kreasi tersebut. Fyuhh, perjuangan yang melelahkan untuk bisa menari bagi orang yang memiliki badan besar seperti saya. :')

Hari dimana hasil seleksi berkas diumumkan pun tiba. Setelah membuka website PCMI Lampung, Alhamdulilah, saya lolos untuk seleksi berkas. Malamnya, saya langung berangkat pulang ke Lampung untuk mengikuti seleksi di kantor dispora di Teluk Betung, Bandar Lampung. Saya pun menumpang menginap di rumah orang yang sangat berjasa bagi hidup saya, yakni Rahman. Dia adalah  salah satu teman saya dulu pada saat saya masih kuliah di IAIN Lampung. Dia menjadi sang mesiah saya pada saat itu. Tanpa pertolongan dia, saya tidak tahu harus numpang nginap dimana selama saya mengikuti tes di dispora Lampung. Saya tiba di pool Damri Tanjung Karang tepatnya di sebelah stasiun pada pukul 05.00 pagi. Belum ada angkot sepagi itu untuk menuju rumah Rahman. Namun, seperti namanya, Rahman yang berarti pengasih, rela menjemput saya sepagi itu ke pool padahal malamnya dia belum tidur karena seusai menonton sepak bola. Baik sekali dia.:)

Setelah tiba di rumah Rahman, saya pun beristirahat melepaskan lelah karena perjalanan yang cukup melelahkan dari Jakarta-Lampung. Tidak hanya sampai disitu, siangnya, rahman mengantarkan saya keliling B. Lampung untuk mencari tempat penyewaan baju adat. Walaupun tidak diwajibkan oleh panitia seleksi, tapi pakaian adat Lampung ini saya gunakan untuk mendukung performa saya untuk unjuk bakat menari keesokan harinya, yakni pada saat seleksi. Saya yakin, persiapan yang matang adalah 50% dari sebuah keberhasilan. 50% nya lagi adalah usaha kita. Puluhan tempat penyewaan kami datangi, dan akhirnya mendapatkan tempat yang sesuai dengan kantong saya pada saat itu karena ditempat lain sangat mahal tarifnya untuk ukuran saya. Tanpa menunjukkan rasa penyesalan, rahman pun dengan ikhlas mengantarkan saya untuk mengelilingi B, Lampung untuk mendapatkan baju adat tersebut. Dia benar-benar pahlawan bagi saya pada saat itu.

Keesokan harinya, seleksi pun dimulai. Pukul 07.00 pagi saya sudah berada di kantor dispora Lampung. Tentunya, Rahman yang mengantarkan saya pagi pagi sekali. Persiapan saya sangat mantp sekali. Mulai dari baju adat yang sudah saya siapkan, lembaran-lembaran materi untuk tes tertulis, dan juga Speaker aktif yang besarnya se Tas samping merek Simbada turut saya bawa untuk saya gunakan pada saat tes kemampuan seni.  1 tas gendong dan 1 tas samping yang berisi speaker aktif menghiasi diri saya yang persis seperti orang yang akan backpackeran. tes pertama pun akan segera dimulai, yakni tes tertulis. Setelah proses seleksi dibuka secara resmi oleh bapak Kadispora Lampung, seleksi tertulis pun dimulai. Sebelumnya, saya sempat berdecak kagum melihat beberapa panitia seleksi yang merupakan alumni dari program PPAN sebelumnya. Ada Rizkur, Mario, Tiara, dan juga Mas Yogi yang mengenakan Attire mereka masing-masing sebagai tanda bahwa mereka adalah duta Negara yang tahun lalu pernah berangkat ke negara tujuan masing masing. yakni Australia, Malaysia, Kanada, dan ASEAN Jepang. Wah, gagah segali mereka. Sudah terbayangkan oleh saya, ketika saya mengenakan Attire itu, saya pasti akan terlihat gagah sekali. Hal tersebut menambah semangat saya untuk mengikuti seleksi tertulis yang akan segera diumulai.

Tes tertulis pun dimulai. Soal terdiri dari 15 items kalau tidak salah, dan semuanya essay. Dan parahnya, waktu yang diberikan hanya 45 menit. Fyuhh, disini dituntut kecepatan, ketelitian, dan kemampuan untuk mengemas sebuah jawaban yang panjang lebar hanya menjadi beberapa kalimat saja. Saya pun mulai mengerjakan dan menjawab pertanyaan-demi pertanyaan yang tertera di lembar soal tersebut. 45 menit pun berakhir. Semua peserta diharapkan meninggalkan ruangan tes karena tempat akan disterilisasi. Waktu luang ini aku sempatkan untuk berkenalan dengan teman-teman para peserta seleksi PPAN yang lain. Dan isinya, sudah ditebak, yakni mereka-mereka yang selalu eksis di perlombaan B. Inggris dimanapun diselenggarakan di Lampung. Yes, this was a reunion. Ga jauh-jauh dari mereka-mereka lagi. Anak-anak eksis sepanjang masa. Selain mereka, juga berkenalan dengan teman-teman baru dengan latar belakang yang luar biasa. Ada yang Muli Lampun (kayak none nya kalo di jakarta), ada yang seniman, ada yang Komika, ada yang tukang hipmotis, dll. Saya senang ngobrol dan bercerita panjang lebar dengan mereka. Ada juga kebanyakan dari mereka yang sudah mengikuti program seleksi ini sampai 2x, 3x, bahkan ke 4 kalinya. Terlihat sekali jiwa pantang menyerah dari mereka-mereka ini. Dibanding dengan saya yang kali pertama baru mengikuti program ini, tentulah mereka lebih mengerti seluk-beluk program ini dari tes-tes yang mereka ikuti di tahun-tahun sebelumnya. Ah, tak apa. Mengingat hanya akan ada 1 putera dan 3 putri yang diambil lolos program ini, keputusan apa pun harus siap dihadapi, "gumamku". Seperti yang kami semua peserta seleksi duga, pengumuman hasil seleksi tertulis memakan waktu seharian dari pagi sampai magrib. Karena ada 68 peserta dan semua soal tes tertulisnya adalah essay dan berbahasa Inggris. Tentu saja memakan waktu lama. Terlihat wajah-wajah cemas penuh harapan dari seluruh peserta seleksi tentang nasib mereka apakah mereka lolos tes tertulis ini atau pun gugur, karena setiap tahapan tes menggunakan sistim gugur. Dan, jeng jeng jeng. Alhamdulilah saya lolos tes tertulis dan dapat mengikuti tes berikutnya yakni wawancara dan unjuk bakat seni budaya. Bagi mereka yang tidak lolos seleksi tertulis, mereka pun meninggalkan tempat seleksi. Haru sekali disana. Kata-kata semangat pun berhamburan disana saat mereka hendak meninggalkan lokasi tes. Saya pun sedih. Tapi saya pun masih harus berjuang mengikuti tes berikutnya yang sudah di depan mata. 

Setelah solat magrib, para peserta seleksi yang tersisa termasuk saya memasuki ruang wawancara yang dibagi pos pos secara bergantian. Saya berada dalam satu grup dengan Rizky dan Ibhul. Di setiap pos kami dilontarkan pertanyaan demi pertanyaan. Kami bertiga pun bergantian menjawab pertanyaan yang dilontarkan panitia. Perdebatan pun tak dapat dihindarkan. Terlihat sekali persaingan diantara saya dan Rizky dalam upaya memberikan jawaban terbaik untuk meyakinkan panitia bahwa kita lah yang terbaik. Perdebatan diantara saya dan Rizky hingga membuat Ibhul mendapatkan sedikit kesempatan untuk berbicara. Hingga saya pun merasa sangat arogan saat itu tidak memberikan celah bagi dia untuk berbicara. Walaupun hakikatnya, kami sedang bersaing mendapatkan 1 kuota untuk putra. Setelah melewati sesi wawancara seputar kepemimpinan, kepribadian, B. Inggris, dan pengetahuan program, para peserta seleksi pun menuju ruang tallent show. Pada giliran saya tiba, saya pun menunjukkan bakat seni yang saya punya seperti yang diminta oleh panitia. Seperti yang sudah saya persiapkan, saya sudah mengenakan pakaian adat Lampung. Dan dugaan saya benar. Saya adalah satu-satunya peserta yang paling lebay karena harus menggunakan pakaian adat pada saat tallent show. Malu sebenarnya. Tapi, saya mempersiapkan ini semua bukan karena untuk sombong. Malainkan untuk menarik perhatian juri, kalau saya sudah mempersiapkan segalanya dengan maksimal. Jadi, ketika nanti saya misalnya gagal, saya tidak terlalu menyesal karena saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. I have done my best! Bismillah.

Tes untuk tallent show baru dimulai sekitar pukul 09.00 malam. Para peserta masih sangat antusias, walaupun terlihat sekali muka-muka yang kelelahan setelah seharian mengikuti serangkaian tes. Giliran saya pun tiba untuk masuk ruangan tallent show. Sebelumnya beberapa pertanyaan tentang beberapa kesenian yang saya bisa lakukan dan saya menjawab beberapa yang saya bisa dan yang tidak saya bisa. Setelah itu mulailah saya menari, bermain gitar, menyanyi, membaca puisi, dan MC. Semuanya saya lakukan dengan maksimal, walaupun saya yakin panitia para juri mungkin mentertawakan saya. Menari yang asal gerak, bernanyi yang asal teriak, bermain gitar yang asal genjreng, baca puisi yang mirip dengan membaca dongeng, dan ngemsi yang seadanya plegak pleguk. Oh Tuhan, saya sadar akan kelemahan saya. Untuk menjadi duta negara tak hanya knowledge yang dibutuhkan, tapi juga keterampilan. Intinya, harus serba bisa.

Sekitar pukul 00.00 malam, barulah tes tallent show selesai. Hari yang sangat-sangat melelahkan. Para calon duta negara sedang diuji ketahanan mental, fisik, dan kesabarannya. Kasihan sekali melihat para pesrta seleksi wanita yang tengah malam masih bernyanyi, menari, bermain alat musik, tanpa lelah. Huh, keren sekali seleksi ini. Pengalaman yang tak kan pernah terlupakan. Kasihan juga melihat para orang tua yang sudah menunggu di luar gedung untuk menjemput anaknya yang kebanyakn wanita sudah dari jam 08.00. Kurang lebih 4 jam mereka sudah menunggu. Terlihat juga pengorbanan dari seorang ayah yang rela menunggu berlama-lama demi anaknya. Dan saya, saya yang nanti akan dijemput oleh sang mesiah saya, Rahman, juga turut bersyukur mengenal sosok sahabat seperti dia. 

Tes berikutnya adalah FGD atau Focus Group Discussion. Namun, mengingat waktu yang sudah larut, tidak memungkinkan untuk melanjutkan tes ini. Jika tes ini benar-benar di lanjutkan, kira-kira baru akan selesai jam 05.00 subuh keesokan harinya. Mantap sekali! Akhirnya, bapak Kadispora yang masih mengikuti jalannya rangkaian tes ini hingga larut malam pun, memutuskan untuk membatalkan tes FGD. Dan para peserta seleksi diperbolehkan pulang. Tes FGD akan dimasukkan di kegiatan Regional Training, yang merupakan tes puncak dari tahapan-tahapan seleksi PPAN ini. Pengumuman siapa-siapa saja yang lolos tes wawancara dan tallent show dn berhak mengikuti Regional Training akan diumumkan keesokan harinya pukul 15.00. Peserta seleksi pun dibubarkan. Namun, lagi-lagi ada hal luar biasa yang membuat saya berdecak kagum pada masyarakat Lampung. Yakni kebersamaan dan keperdulian. Setiap peserta diminta oleh Bapak Maryadi, staf dispora sekaligus anggota panitia, untuk pulang bersamaan atau konfoy bagi mereka yang tidak di jemput. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan keamanan mengingat hari sudah larut malam. Selain itu, mereka yang berkonfoy kebanyakan yang mengendarai roda 2, peserta laki-laki wajib mengantarkan peserta wanita anggota konfoy yang rumahnya searah sampai di depan rumahnya. Dan sisanya, bagi yang tidak di jemput dan tak pula membawa kendaraan, akan diantar oleh bapak-bapak staff dispora menggunakan mbil pribadi mereka sampai di depan rumah. Saya sungguh terkagum-kagum melihat ini semua. Dibalik tanggapan banyak orang kalau orang Lampung itu kasar dan mau menang sendiri, kini seketika terhapus dari benak saya. Orang Lampung itu baik, perduli, dan mengutamakan kebersamaan. Setelah para peserta meninggalkan kantor dispora, saya pun di jemput oleh Rahman tak lama kemudian yang juga rela belum tidur sampai larut malam demi untuk menunggu saya selesai tes. Saya pun tiba di rumah Rahman dengan selamat dan beristirahat karena kegiatan yang begitu melelahkan seharian dari pagi sampai larut malam.

Keesokan harinya, debar-debar kecemasan terus menyelimuti diri saya. Menanti pengumuman siapa saja yang akan lolos ke Regional Training. Tak henti-hentinya do'a terucap di lisan saya. Agar saya lolos ke tahapan seleksi berikutnya. Pukul 02.15 sore. Saya sudah mulai me reload hingga berkali-kali website PCMI Lampung. Pada saat itu, saya yakin saya dapat lolos ke seleksi Regional Training karena pada tes sebelumnya berjalan lancar tanpa ada hambatan yang berarti. Pukul 15.00 pun tiba.Sekali lagi saya me reload website PCMI Lampung dan tertera daftar nama-nama peserta seleksi yang lolos ke regional training. Setelah saya scrol layar HP saya, ada 12 nama peserta putri dan hanya 3 nama peserta putra. Saya berbahagia karena dari ke 3 nama peserta putra yang lolos, tertera nama Muhammad Iqbal selain nama Rizky dan Ave. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Setelah melihat nomor peserta, nomornya berbeda dengan nomor peserta saya. Dan ternyata, yang lolos adalah Ibhul, yang memiliki nama sama dengan saya, Muhammad Iqbal. Saya seketika lemas. Sedih. Ingin sekali menangis, tapi air mata tak sanggup menetes karena menangis tak dapat lagi melukiskan kesedihan dan kekecewaan saya pada saat itu. Mangingat kembali persiapan dan pengorbanan saya sebelum dan pada saat tes, rasanya saya tak pantas mendapat kegagalan. Tapi sayangnya, manusia hanya bisa berusaha semaksimal mungkin, Tuhan lah yang memutuskan semuanya. Oh Tuhan, jujur ini berat sekali. Saya terdiam beberapa saat. Tak bicara. Tak berkedip. Hanya diam. Mencoba untuk mengaplikasikan kembali ilmu ikhlas dan sabar. 

Setelah agak sedikit tenang, saya kemudian menghubungi orang tua saya, dan berpamitan dengan Rahman dan keluarganya untuk segera pulang ke Jakarta. Tak lupa pula mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mereka yang telah bersedia memberi tempat saya selama berada di Lampung. Dengan berat hati harus pulang ke Jakarta untuk mencoba move on dan kembali berkumpul bersama komunitas dan teman-teman saya di Jakarta dan menyelesaikan tugas akhir saya, SKRIPSI!

Banyak pelajaran yang saya dapat dari mengikuti seleksi program ini, walaupun tahun ini saya masih gagal. Banyak hal dari diri saya yang perlu saya benahi. Dan, semua itu tidak akan berakhir sampai disini. Setelah membenahi apa-apa yang kurang dari diri saya, saya pun akan terus menjadi manusia yang lebih baik lagi sampai saya dianggap pantas ole Allah untuk menjadi perwakilan Lampung menjadi duta negara di tahun berikutnya.

Tidak ada kata gagal dalam hidup saya. Toh, tidak sekali ini saja saya gagal. Dan setelah kegagalan-kegagalan tersebut, Allah selalu menunjukkan kuasanya untuk memberi saya kejutan-kejutan yang tak terduga dibalik semua kegagalan-kegalan tersebut. Yang saya yakini, tidak ada ceritanya Allah tidak mengabulkan do'a hambanya selagi mereka mau berusaha. Ada 3 cara Allah mengabulkan do'a hambanya. Yang pertama kita berdoa dan langung dikabulkan. Yang kedua kita berdoa dan dikabulkan, namun ditunda waktunya. Dan yang ketiga kita berdoa tidak dikabulkan, tapi diganti dengan hal yang lebih baik.

Ada nama Hesty disitu, salah satu peserta yang lolos untuk mewakili Lampung untuk berangkat ke Kanada. Saya salut akan pengorbananya yang terus mencoba sampai 3x namun belum lolos. Dan yang ke 4 kalinya, barulah dia terpilih. Allah tidak akan membiarkan hambanya yang sudah berusaha bersusah payah untuk terus menanggung kegagalan. Akan ada jawaban dan kejutan bagi mereka yang mau berusaha keras tanpa mengenal lelah.

Mudah-mudahan, dengan saya menulis dan berbagi cerita di blog ini, saya akan bisa move on segera untuk menyelesaikan skripsi saya karena saya berharap rasa kecewa saya sudah ikut habis terbawa huruf demi huruf yang saya tuliskan disini. Tulisan ini saya dedikasikan untuk skripsi saya, agar dapat selesai dan sidang sesegera mungkin. Selain itu, mudah-mudahan tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca blog ini.

"Kemanangan adalah untuk orang-orang yang berjuang. Kemenangan adalah untuk orang-orang yang berdo'a." (-Soundtrack finalist indonesian idol 2013)